Jombang, Garuda10.com – Setelah penunjukan Direktur yang baru, Komisi B DPRD Jombang mengadakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Perumda Panglungan Wonosalam. RDP ini dilaksanakan untuk memahami strategi yang dimiliki perusahaan milik negara tersebut dalam melakukan perbaikan.
“Agenda hari ini merupakan lanjutan dari keputusan yang diambil terkait Direktur yang baru. Kami berharap akan muncul program kerja yang dapat menyelesaikan berbagai masalah,” jelas Anas Burhani, Ketua Komisi B.
Anas menambahkan bahwa selain ingin mengetahui rencana kerja Direktur baru, para wakil rakyat juga ingin mendapatkan solusi konkret untuk permasalahan karyawan. “Fokus kami adalah menyelesaikan issue jangka pendek, khususnya yang berkaitan dengan karyawan. Kita semua tahu sudah empat bulan mereka tidak menerima gaji, termasuk Direktur yang baru,” sambungnya.
Setelah mendengarkan pemaparan dalam sesi tersebut, Komisi B merasa mendapatkan wawasan tentang komoditas yang dimiliki Perumda Panglungan Wonosalam. Komoditas tersebut berpotensi menjadi sumber bisnis jika dikelola dengan baik. “Ternyata ada banyak komoditas yang bisa dimanfaatkan sebagai ladang usaha. Di antaranya Kopi, Cengkih, Coklat, dan lain-lain,” ungkap Ketua Komisi B.
Meskipun tidak ada diskusi mengenai penyertaan modal, Direktur baru mengungkapkan bahwa ia sudah memiliki rencana kerja. Rencana itu akan dijalankan untuk menyelesaikan beban masalah di dalam Perumda Panglungan Wonosalam. “Direktur menyatakan akan berusaha mengoptimalkan aset untuk menyelesaikan tanggungan di dalam,” tuturnya.
Di samping program kerja, Direktur baru juga telah menentukan tenggat waktu untuk menyelesaikan masalah yang ada. “Rencana kerja Direktur baru adalah dua tahun sudah selesai. Setelah itu baru bisa masuk ke tahap menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD),” jelas Anas.
Masih di lokasi yang sama, Direktur Perumda Panglungan Wonosalam, Agus Mujiono menjelaskan bahwa batas waktu dua tahun memiliki beberapa syarat. Dengan dukungan dari Komisi B, hal itu tidak akan menjadi beban berat. “Program kerja selama dua tahun ini kami butuhkan untuk membenahi masalah internal. Dengan dukungan dari Komisi B, kami percaya perbaikan bukanlah hal yang sulit,” ungkapnya.
Agus menambahkan, tindakan yang segera diambil mencakup evaluasi terhadap kontrak dengan pihak ketiga. “Kami ingin melakukan kajian dan evaluasi kontrak dengan pihak ketiga. Banyak di antaranya yang berpotensi melanggar aturan serta merugikan Perumda,” jelasnya.
Mengenai kontrak tersebut, ia melanjutkan, sebaiknya dilakukan perbaikan semaksimal mungkin. “Jika perlu harus ditutup. Hal itu harus segera dilakukan agar Perumda tidak semakin merugi,” tambahnya.
Setelah tahapan tersebut, langkah selanjutnya adalah mengoptimalkan komoditas yang tersedia. “Kami akan meningkatkan produktivitas melalui pembuatan blok dan tower air. Setelah itu, baru kami akan membahas keuntungan perusahaan,” rincinya.
Tidak ingin mengulang kesalahan dari Direktur sebelumnya, Agus menekankan pentingnya pengoptimalan komoditas yang ada sebagai solusi. “Kearifan lokal mengenai komoditas yang kita miliki sudah sangat mumpuni. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak mengembangkan tanaman porang, yang sampai saat ini belum memberikan hasil,” jelasnya.
Menyadari potensi yang besar, Perumda Panglungan akan fokus pada komoditas unggulan. Selama ini, komoditas yang sesuai dengan bisnis adalah Cengkih. “Kami telah fokus pada Cengkih. Alam telah memberikan kita potensi yang luar biasa, yang penting adalah bagaimana kita dapat mengoptimalkannya,” tutupnya.
Dengan rencana kerja tersebut, Direktur percaya bahwa dalam dua tahun, semua masalah dapat diselesaikan. “Apalagi dengan adanya bantuan dari Komisi B serta Organisasi Perangkat Daerah yang bersangkutan. Usaha perbaikan bukanlah sesuatu yang tidak mungkin untuk dilaksanakan,” tutup Agus. (Red)





