JOMBANG, Garuda10.com — Pesan persatuan menguat di Kabupaten Jombang menjelang peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Forum Komunikasi Masyarakat Jombang (FKMJ) menggelar Doa Bersama Lintas Agama di Aula Markas Kodim 0814 Jombang, Rabu (30/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang bersama bagi tokoh agama, pemerintah, TNI, serta masyarakat untuk memperkuat silaturahmi, toleransi, dan kerukunan di tengah keberagaman masyarakat Jombang.
Wakil Bupati Jombang Gus Salmanudin hadir mewakili Bupati Jombang Warsubi, S.H., M.Si. Hadir pula Kasdim 0814/Jombang Mayor Cke Nurhadi mewakili Dandim Letkol Kav Dicky Prasojo, S.H., M.Han., jajaran perangkat daerah Pemkab Jombang, Ketua FKMJ H. Achmad Suudi bersama pengurus, serta Ketua Panitia Pdt. Christian Muskanan.
Nuansa kebersamaan lintas keyakinan terlihat dari kehadiran sejumlah tokoh agama dan kepercayaan. Mereka antara lain KH. Fathur Rohman Tsany dari Islam, Romo RD. Felix Herjuno Krido Pamungkas dari Katolik, Pdt. Herry Soesanto dari Kristen, Jenny Soejiono dari Konghucu, Subianto YAP dari Buddha, Juwadi dari Hindu, serta Suhartono dari Kepercayaan.
Dalam sambutan Bupati Jombang yang dibacakan Gus Salmanudin, Pemkab Jombang memberikan apresiasi terhadap FKMJ yang dinilai konsisten menjadi wadah pemersatu berbagai unsur masyarakat, mulai dari agama, suku, etnis hingga budaya.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, kata Bupati, tidak cukup dimaknai sebagai agenda seremonial. Nilai-nilai Pancasila perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap saling menghormati, menghargai perbedaan, serta menyelesaikan persoalan dengan musyawarah.
“Peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus menjaga persatuan. Pancasila perlu kita hadirkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap saling menghormati, menghargai perbedaan, serta menyelesaikan persoalan dengan musyawarah dan cara-cara yang baik,” tegas Gus Salmanudin saat membacakan pesan Bupati.
Pesan kerukunan juga diarahkan pada lingkungan masyarakat. Warga diajak memberikan ruang yang aman bagi umat beragama lain ketika menjalankan ibadah, membantu sesama tanpa melihat latar belakang, serta menghidupkan kembali semangat gotong royong.
Tak kalah penting, masyarakat diingatkan untuk menjaga ucapan dan informasi yang disebarkan, khususnya melalui media sosial. Hoaks maupun narasi provokatif dinilai berpotensi memicu konflik dan merusak kerukunan yang telah terbangun.
“Saling menghormati dan memberi ruang yang aman saat umat agama lain menjalankan ibadahnya. Saling membantu tetangga yang membutuhkan tanpa memandang latar belakang, serta aktif bergotong royong dalam menyelesaikan permasalahan lingkungan. Menjaga lisan, ucapan, serta narasi informasi terutama di media sosial agar tidak menyebarkan hoaks atau provokasi yang dapat memicu perpecahan,” tutur Gus Salmanudin.
Para tokoh agama dan tokoh masyarakat yang hadir juga diajak mengambil peran sebagai teladan di tengah masyarakat. Perbedaan keyakinan, suku, etnis, dan budaya ditegaskan sebagai bagian dari kehidupan bangsa Indonesia.
“Untuk itu, saya mengajak seluruh tokoh agama dan tokoh masyarakat yang hadir, agar senantiasa menjadi teladan bagi masyarakat. Mari kita tunjukkan dan kita tanamkan bahwa perbedaan keyakinan, suku, etnis, dan budaya merupakan bagian dari kehidupan kita sebagai bangsa Indonesia,” tandasnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga Jombang sebagai rumah bersama.
“Mari kita terus rawat Kabupaten Jombang sebagai rumah bersama. Berbeda keyakinan, berbeda latar belakang, tetapi tetap bergandengan tangan untuk menjaga kerukunan dan membangun daerah yang kita cinta,” pungkasnya.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa dari masing-masing pemeluk agama dan kepercayaan. Doa bersama tersebut menjadi simbol harapan agar Kabupaten Jombang senantiasa diberikan keselamatan, ketenteraman, keberkahan, serta tetap menjadi ruang bersama yang aman, rukun, dan harmonis bagi seluruh masyarakat.
(Red)





