Momentum Menghidupkan Mantra Asta Cita di Kabupaten Jombang

Kecamatan Sumobito kini telah masuk dua besar dalam penilaian Saka Jatim 2025 Bank Indonesia Jawa Timur untuk kluster padi.

Jombang, Garuda10.com – Setelah melalui berbagai tahap seleksi administratif dan wawancara, Kabupaten Jombang berhasil mengajukan tiga kluster komoditas untuk mendapatkan bimbingan dari Bank Indonesia Wilayah Jawa Timur. Kluster padi diwakili oleh Regu Pengendali Hama (RPH) dari Desa Kendalsari, Kecamatan Sumobito. Kluster jagung diwakili oleh Poktan Murong Santren, Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, sementara Kluster Kopi diwakili oleh Koperasi Produsen Kopi Wonosalam, 17 Juli 2025.

SAKA JATIM adalah Sarana Akselerasi Klaster Agribisnis Jawa Timur. Program ini dilaksanakan oleh Bank Indonesia Wilayah Jawa Timur dengan tujuan mengembangkan petani yang unggul dan berorientasi bisnis. Petani yang memiliki manajemen kelembagaan yang baik serta berkontribusi dalam mengoptimalkan potensi sumber daya pertanian di daerah.

Bacaan Lainnya

Program Saka Jatim 2025 juga merupakan bagian dari usaha Bank Indonesia untuk menjaga kestabilan harga melalui pengembangan kluster yang mendukung ketahanan pangan, pengembangan komoditas yang ditujukan untuk ekspor, serta peningkatan komoditas yang rentan terhadap fluktuasi harga yang dapat mempengaruhi ekonomi masyarakat.

“Tentu kami menyambut inisiatif ini dengan semangat, terutama karena program ini digagas oleh institusi yang sangat terpercaya yaitu Bank Indonesia. Ini adalah momen bagi seluruh keluarga besar Dinas Pertanian Kabupaten Jombang untuk mempersembahkan kelompok-kelompok yang selama ini dibina bersama tenaga lapangan. Saya selalu menekankan kepada semua petugas agar mengikuti kegiatan seperti ini dengan serius. Kita akan berusaha sebaik mungkin, karena ini adalah peluang kita untuk menunjukkan hasil kerja dan sekaligus mendapatkan manfaat dari proses penilaian,” ujar Moch. Rony, kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang.

Mengajukan Dua Kluster pangan dan satu kluster perkebunan.

RPH (Regu Pengendali Hama) di Desa Kendalsari, Kecamatan Sumobito kini telah masuk dua besar dalam penilaian Saka Jatim 2025 Bank Indonesia Jawa Timur untuk kluster padi. RPH Kendalsari sendiri telah ditunjuk oleh Kepala Dinas Pertanian sebagai RPH Model di Kabupaten Jombang.

Para petani di Desa Kendalsari sebelumnya mengalami serangan hama tikus yang mengancam hasil panen. Selama tiga tahun, petani di Kendalsari mengalami gagal panen. Dari tahun 2020 hingga 2022, tanaman padi, jagung, dan cabai yang biasa ditanam selalu habis diserang hama tikus.

Di awal tahun 2023, Dinas Pertanian bersama petani, didukung oleh masyarakat dan didampingi oleh PPL-POPT serta pemerintah desa, melaksanakan program pengendalian hama tikus secara terpadu. Sebagai hasilnya, pada musim panen padi pertama tahun 2023, para petani dapat menikmati hasil panen mereka. Hama tikus yang sebelumnya mengganggu para petani di Desa Kendalsari kini dapat dikelola dengan baik.

Upaya tidak berhenti hanya pada pengendalian hama. Dengan dukungan dari petugas, petani Kendalsari mulai meningkatkan kualitas budidaya mereka. Mereka menerapkan praktek budidaya yang ramah lingkungan melalui kegiatan Budidaya Tanaman Sehat. Budidaya ini mengutamakan penggunaan bahan alami dengan memanfaatkan sumber lokal. Mereka membuat pupuk organik, pestisida nabati, dan agen hayati sendiri untuk mendukung praktek budidaya tanaman sehat di desa Kendalsari. Hal ini memungkinkan penghematan biaya dan peningkatan produksi.

Partisipasi aktif dan kerjasama adalah kunci keberhasilan dalam mendukung kelangsungan kegiatan RPH di Desa Kendalsari. “Saya sangat mendukung kegiatan RPH ini, dan pemerintah desa telah mengalokasikan Dana Desa untuk mendukung RPH Kendalsari. Pada tahun 2025, kami berencana menjadikan RPH sebagai mitra Bumdes Kendalsari dalam melaksanakan kegiatan usaha ketahanan pangan, memproduksi agen hayati, dan pupuk organik,” kata Mulyadi, kepala Desa Kendalsari.

Kami berkomitmen untuk melanjutkan dan memperluas aktivitas RPH Kendalsari, baik dalam pengendalian maupun pengembangan Budidaya Tanaman Sehat yang bersifat mandiri. Hal ini menjadi tujuan kami, ” jelas Ikhwan Effendi, salah satu pengurus RPH Kendalsari.

Sementara itu, kelompok tani jagung diwakili oleh Poktan Murong Santren dari Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto. Melalui berbagai usaha yang dilakukan oleh para petani di Poktan Murong Santren, produktivitas jagung telah meningkat. Selain hanya bergantung pada budidaya jagung, hasil panen juga diolah menjadi berbagai produk. Ini dilakukan baik oleh kelompok wanita tani maupun masyarakat Murong Santren. Kelompok tani Murong Santren bertekad untuk mewujudkan agribisnis jagung yang lebih baik. Usaha ini didukung penuh oleh pemerintah desa dan tokoh masyarakat setempat.

Zaki, salah satu pengurus Poktan, menjelaskan bahwa selain bertani, banyak petani yang juga beternak, baik kambing maupun sapi. Hal ini menjadi mungkin karena ketersediaan pakan yang berlimpah, termasuk dari sisa pengolahan tahu. Terdapat potensi besar yang belum dimanfaatkan, yaitu limbah ternak. Meskipun petani sudah memanfaatkannya sebagai pupuk organik, pengelolaannya masih terbatas. “Di masa mendatang, kami akan meningkatkan pengelolaan limbah ternak untuk mendukung pertanian, dan saya berharap program dari Bank Indonesia bisa membantu pemanfaatan limbah ternak dalam bidang pertanian,” ungkapnya.

Selain limbah ternak, potensi lain yang ada di Desa Mayangan adalah pemanfaatan limbah tahu. Saat ini, ada limbah cair dari tahu yang belum dimanfaatkan. “Kami sedang menjalin kerjasama antara paguyuban pengrajin tahu dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jombang untuk membuat instalasi pengolahan air limbah tahu dan mengubahnya menjadi pupuk cair,” kata Imam Subki, pengurus paguyuban pengrajin tahu.

Komitmen para petani di Murong Santren sangat kuat untuk memperbaiki cara budidaya pertanian dan memanfaatkan potensi yang ada. Aktivitas pertanian, pengolahan jagung oleh UMKM, peternakan, dan industri tahu dapat saling mendukung. Para tokoh petani, pelaku UMKM, perangkat desa, serta petugas pertanian sepakat untuk menyatukan semua kegiatan ini dalam satu usaha agribisnis.

Selain dua klaster pangan, klaster kopi juga mendapatkan bimbingan dari Bank Indonesia. Koperasi Produsen Kopi Wonosalam mewakili klaster ini. Seperti yang diketahui, kawasan Wonosalam dikenal dengan kopi ekselsa yang memiliki rasa khas. Berbagai kegiatan produksi dan pemasaran sudah diikuti oleh Koperasi Produsen Kopi Wonosalam, sehingga citra kopi Wonosalam semakin dikenal.

RPH Kendalsari, Poktan Murong Santren, dan Koperasi Produsen Wonosalam akan segera mengikuti program bimbingan dari Bank Indonesia. Mereka akan dilatih tentang budidaya yang baik, berwawasan lingkungan, pengelolaan lembaga yang tepat, serta diversifikasi produk pertanian.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung pengembangan kluster komoditas di Kabupaten Jombang. Para petugas lapangan dan Pemerintah Desa yang turut berkontribusi. Terima kasih juga kepada Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur yang memberikan kesempatan bagi Kabupaten Jombang untuk terlibat.

Kami berharap akan ada pembinaan dan dukungan lebih lanjut dari Bank Indonesia, terutama karena tujuan Saka Jatim sejalan dengan program pemerintah kabupaten Jombang.

Inovasi teknologi, peningkatan produktivitas, pertanian berkelanjutan, hilirisasi, penguatan kelembagaan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang pertanian menjadi fokus kami.

Kami siap memberikan dukungan penuh untuk merealisasikan semangat kerja Bupati Jombang, yaitu Kolaborasi Bersama untuk Mewujudkan Jombang Maju dan Sejahtera melalui Asta Cita,” tutup Ir. Moch Rony, MM, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang. (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *